Selasa, 04 Juli 2017 15:55 WITA

Jangan Ulang Memori PON Sulsel di Bandung, PSM!

Editor: Almaliki

RAKYATKU.COM - Tahun lalu, tim sepakbola PON Sulawesi Selatan (Sulsel) harus disakiti tim Jawa Barat (Jabar) pada final PON Jabar 2016. Saat itu, tim Sulsel harus pulang dengan kepala tertekuk karena kalah adu penalti dengan skor 5-4, usai bermain 0-0 selama 120 menit.

Dalam drama adu penalti itu, dua algojo Sulsel gagal. Mereka yakni Irfan Irfandi dan Alia Alfuad. Masyarakat Sulsel pun, dominan, sedih dan haru biru. Bagaimana tidak, pada sepakbola Sulsel, mereka menitipkan harapan yang sangat besar.

Bayangkan saja, prestasi tertinggi tim Sepakbola Sulsel hanya sampai di babak semifinal di PON 1977 dan meraih medali perunggu PON 1977, dan di babak semifinal pada PON 1996 lalu. Praktis, masuk final sudah menjadi kebanggaan masyarakat Sulsel sendiri.

Kalah menjadi bagian nomor dua pada momen bersejarah tersebut. Pertama adalah insiden penolakan pengalungan medali bagi tim Sulsel. Hal itu disebabkan insiden tembakan sinar laser ke wajah pemain Sulsel, saat ingin mengeksekusi tendangan penalti.

Tepat pada Rabu (5/7/2017) besok, pemain Sulsel akan bertemu pemain Bandung lagi. Pemain tersebut adalah Nurhidayat dan Hasnawi Mangkualam Bahar. Atmosfer kegilaan masyarakat Jabar terkhusus Bandung, akan mereka rasakan lagi.

Mereka akan membela PSM Makassar saat bersua Persib Bandung. Misinya sama, baik Persib dan PSM mengincar kemenangan. Sayangnya, pertarungan itu akan jadi pertarungan beda kelas namun sarat gengsi.

Patut diketahui kalau Persib dengan sokongan dana yang besar, berhasil merekrut dua pemain asing yang namanya sudah kadung dikenal. Michael Essien dan Carlton Cole. Tetapi perlu diingat, Maung Bandung kini melempem tak seperti skuat Jabar saat itu.

Mereka kini berada di posisi 13, berdiri di tubir curam dan nyaris terjun ke dasar klasemen sementara Liga 1. Berbeda dengan Pasukan Ramang, mereka menempati posisi 1. Paling tidak, ia bisa menyamai tren skuat Sulsel saat ikut dalam PON Jabar.

Hebatnya, PSM memanfaatkan benar isi skuatnya yang didominasi pemain lokal dan muda. Apalagi, beberapa pemain asingnya diketahui tidak begitu punya nama, tak seperti dua marque player Persib.

Yang jadi catatan adalah, bukan cuma soal skuat siapa yang lebih mentereng dan klub mana yang lebih banyak dana untuk jor-joran membeli pemain. Lebih dari itu, laga esok adalah palagan yang memantik emosi. Apakah PSM akan bernasib sama dengan PON Sulsel, ataukah Persib akan dimentahkan superiornya dari segi finansial oleh skuat yang pada dasarnya tak pernah diidamkan akan berkuasa sementara dalam Liga 1?

Kita nantikan saja!