Sabtu, 11 Juni 2016 11:49 WITA

Ini Tampakan Tasbih Panjang di Polman, Bikin Kaget

Penulis: Yusri
Editor: Almaliki
ilustrasi (int)

RAKYATKU.COM, POLMAN - Penahkan Anda mendengar tasbih yang panjangnya mencapai puluhan meter? Di Polewali Mandar, Sulawesi Barat seorang warga menyimpan tasbih dengan panjang mencapai 38 meter dan memiliki 3.300 buah biji tasbih.

Selain panjang, keistimewaan tasbih yang diperkirakan sudah ada sejak 300 tahun lalu tersebut juga terdapat pada ribuan biji tasbih yang dibuat dari buah manjakani yang didatangkan langsung dari arab Saudi.

Saat bulan ramadan seperti sekarang ini tasbih yang diklaim warga Binuang merupakan terpanjang di dunia ini biasa digunakan puluhan warga untuk berzikir usai salat Tarawih berjamaah Masjid Nurul Hidayah Kelurahan Amassangan, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar.

Uniknya, warga tidak berzikir sendiri-sendiri, melainkan mereka berzikir dengan melingkar ditengah masjid menggunakan tasbih yang berukuran puluhan meter.

Konon tasbih tersebut pertama kali dibawa oleh Syekh Abdul Kadir yang diberi gelar Haji Mallawi dari tanah Arab saat menyebarkan agama Islam di Kerajaan Binuang. Kini benda langka dan unik tersebut dipegang oleh keturunan keenam Syekh Abdul Kadir yakni Muslimin yang juga menjadi imam masjid Nurul Hidayah Binuang.

Menurut Muslimin, dahulu, hampir setiap hari tasbih ini digunakan warga pada berbagai hajatan seperti khatam Al-Quran, maulid dan tahlilan. Namun untuk menjaga kelestarian benda bersejarah ini, kini tasbih terpanjang yang terbuat dari ribuan biji buah manjakani ini hanya dipakai berzikir berjamaah di masjid saat bulan suci Ramadan saja serta pada tahlilan pada saat ada warga yang meninggal dunia.

“biasanya dipakai kalau habis Tarawih. Kita ramai-ramai berzikir dengan mengelilingi tasbih yang pajangnya mencapai 38 meter Pak. Biasa juga dipakai kalau hari Jumat, namun tidak rutin kecuali ada warga yang mau tahlilan,” tutur Muslimin.

Adapun tasbih terpanjang ini sendiri sudah beberapa kali dikunjungi oleh petugas dari Balai Sejarah dan Benda Purbakala untuk dimasukkan ke museum, namun Muslimin enggan. “Saya menolak dengan alasan lebih bermanfaat jika di sini untuk digunakan masyarakat beribadah,” kata Muslimin.

Sayangnya akhir-akhir ini banyak yang mengambil biji tasbih tersebut untuk dijadikan obat dan tidak pernah dikembalikan lagi. Untuk menggantikan biji-biji tasbih yang hilang, sang pemilik tasbih terpaksa memesan kayu khusus yang didatangkan dari Mesir.

Hingga saat ini tasbih terpanjang ini masih tersimpan di rumah Muslimin.

Loading...
Loading...

Berita Terkait